Book

Agustianto-Books

Bertahan di Tengah Badai


Sumber Republika : Suplemen Ekonomi Syariah iB Bank Indonesia

By Republika Contributor

Kamis, 27 November 2008 pukul 13:32:00

Bank syariah harus menunjukkan kinerja terbaiknya sebagai mitra sektor riil, khususnya mengambil posisi untuk membesarkan pasar domestik.

Gelombang krisis finansial global diyakini tidak akan mengguncang kinerja perbankan syariah di Tanah Air karena sistem dan mekanisme perbankan Syariah tidak mengenal bunga maupun volatilitas layaknya sistem perbankan umum. “Pada krisis 1998, sebagian besar bank nasional runtuh. Namun, ada bank umum syariah yang mampu bertahan dan tidak terpengaruh krisis.

Ketahanan perbankan syariah bisa bertahan lama asal saja prinsip syariah benar-benar diterapkan oleh para pelaku,” kata pengamat perbankan Syariah, Sofyan S. Harahap di Jakarta, Senin (20/10).

Menurut Sofyan, di tengah badai krisis, sistem industri syariah nasional justru mampu menawarkan keunggulan prinsip-prinsipnya kepada masyarakat. “Di balik krisis selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Kondisi ini harus dimanfaatkan para pelaku usaha syariah dengan baik untuk mengembangkan perbankan syariah nasional,” katanya.

Menurut pakar ekonomi syariah, Agustianto, di tengah gonjang-ganjing krisis keuangan yang menghantam dunia, sektor usaha kecil menengah (UKM) tetap berdiri kokoh. Karena itu, bank-bank syariah mesti lebih fokus dan intens menggarap sektor ini mengingat bank-bank konvensional pun ikut bermain di dalamnya.

Menurut Agustianto, meski potensial dan tahan dari badai krisis, sejauh ini belum terlihat adanya perubahan perlakuan signifikan terhadap unit usaha kecil tersebut. Meski saat ini sebagian besar pembiayaan perbankan syariah disalurkan ke UKM, perbankan syariah harus bisa merebut pasar UKM itu. ”Saat ini, bank asing konvensional sudah mulai masuk ke dalam sektor UKM. Untuk itu bank umum syariah maupun unit usaha syariah harus dapat menjalin kerja sama dengan lebih banyak BMT dan BPRS,” kata Agus di Jakarta, Kamis (13/11).

Dengan pasar UKM yang mencapai 40 juta unit, sementara market share perbankan syariah baru 2,3 persen di tahun ini, menunjukkan belum seluruhnya sektor UKM ter-cover. Padahal, jelas Agus, sebagian besar pembiayaan perbankan syariah telah disalurkan kepada sektor riil.

Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) A Riawan Amin mengaku yakin prospek bank syariah di Indonesia ke depan akan jauh lebih baik. Pasalnya saat ini Bank Indonesia (BI) sudah mendukung dengan adanya Serifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) serta Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait perbankan syariah. Kondisi tersebut didukung oleh mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam. Sementara sisa penganut agama lainnya, Riawan meyakini merupakan orang yang anti riba. ”Jadi tindakan yang diperlukan sederhana saja yaitu dengan mendatangi Unit Usaha Syariah atau Bank Umum Syariah,” ujarnya.

Semakin cerahnya prospek keuangan syariah juga diperkirakan karena investor dari Timur Tengah akan mulai kehilangan tempat investasinya di Eropa dan Amerika Serikat saat krisis keuangan global terjadi. ”Timur Tengah akan mulai mengalirkan dananya ke negara-negara Islam seperti di Asia Tenggara termasuk Indonesia,” tandas Riawan Amin.

Direktur Eksekutif PT Bakrie Capital Indonesia, Akhabani pun mengatakan, bahwa sistem keuangan dan pasar modal syariah terbukti handal dalam menghadapi krisis. ”Jumlah dana ekuitas Islam global misalnya, tumbuh 12 sampai 14 persen,” ujarnya mengemukakan alasan.

Pertumbuhan tersebut, tambah Akhabani, disebabkan oleh adanya kontribusi high net-worth investor atau institusi. Dana ekuitas tersebut pun diproyeksikan akan terus tumbuh melebihi 26 miliar dolar AS.

Kepala Biro Penelitian, Pengembangan, dan Pengaturan Perbankan Syariah BI, Mulya Effendi Siregar menegaskan, industri perbankan syariah Indonesia memiliki modal besar untuk berkembang dan terkemuka di Asia Tenggara. Tingginya pertumbuhan bisnis ini, kata dia, menjadi salah satu faktor pendorong bergeraknya industri syariah di Tanah Air.

Ia mengungkapkan setiap tahun rata-rata pertumbuhan industri perbankan syariah Indonesia sebesar 50 persen. Sebaliknya, untuk pertumbuhan global hanya 15-20 persen. ”Kita menjadi yang paling atraktif di Asia Tenggara dan pada 2010 menjadi terkemuka,” kata Mulya di Depok, Selasa (11/10).

Untuk menuju ke sana, Mulya merekomendasikan beberapa program yang perlu dilakukan. Mereka antara lain penerapan citra produk, mendiversifikasi produk, memperhatikan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan pelayanan perbankan syariah serta sosialisasi dan komunikasi bahwa syariah adalah suatu sistem.

Lalu, langkah-langkah apa yang perlu dilakukan oleh bank syariah untuk memajukan industri perbankan syariah khususnya memanfaatkan momentum krisis keuangan global? Menurut Presiden Direktur Karim Business Consulting (KBC) Adiwarman Karim, salah satu hal terpenting adalah bank syariah perlu lebih mengerti apa maunya pasar. ”Yang masih kurang dari bank syariah adalah riset tentang apa maunya pasar. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan efektif kalau kita tidak tahu apa maunya pasar?” tandas Adiwarman Karim.

A Riawan Amin mengajak seluruh pelaku industri perbankan syariah untuk menjadikan krisis keuangan global sebagai momentum untuk menunjukkan kinerja terbaik. ”Justru dalam krisis seperti ini, perbankan syariah perlu menunjukkan kinerja terbaiknya sebagai mitra sektor riil, khususnya mengambil posisi untuk membesarkan pasar domestik. Sektor inilah yang sebenarnya masih terbuka dan lebih menjanjikan karena jauh lebih aman dari sentuhan krisis,” tegas A Riawan Amin. ika/yto

Post DIPOSTING OLEH Agustianto | December 2, 2008

2 Responses to “Bertahan di Tengah Badai”

  1. A.Buchory Muslim Says:

    Benar Ustadz, yang kecil memang tidak boleh diremehkan karean Allah saja menyebutkan …wa Tahsabuuna hayyinan wa hua ‘indallaahi ‘azhiim

  2. keyakinan kinerja perbankan syariah di Tanah Air tidak akan terguncang oleh krisis finansial akan bertahan selama para pelaku konsisten dengan prinsip2 syariah. Ini sangat perlu,Ustadz!!!

Leave a Reply