Sumber ; Republika
Rabu, 11 Maret 2009 pukul 21:19:00
Yogie Respati
Wartawan Republika
Diperlukan 30 miliar dolar AS untuk ketahanan pangan.
Perhelatan akbar Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum /WIEF) yang digelar di Jakarta usai sudah. Dalam diskusi intensif selama dua hari, 2-3 Maret 2009, WIEF menghadirkan pembicara ahli dari segala sektor. Mulai dari pemimpin negara, pakar ekonomi syariah, ahli pangan dan energi, hingga CEO perusahaan ternama berbagai negara.
Beragamnya para panelis, karena memang forum WIEF tak hanya berdiskusi mengenai pemecahan krisis ekonomi global. Tapi membahas pula isu lainnya, seperti ketahanan pangan dan energi.
Isu ini menjadi sorotan melihat sejumlah negara yang mengalami krisis pangan. Untuk menjaga ketahanan pangan dunia, Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu, mengatakan setidaknya diperlukan dana 30 miliar dolar AS per tahun untuk menjamin ketahanan pangan dan sistem agrikultur.
Di forum WIEF hari kedua, pembahasan mengenai isu ketahanan pangan dan energi pun menjadi sorotan. Deputi ke-3 Perdana Menteri Uganda, AM Kirunda Kivejinja, mengatakan sektor pertanian krisis modal. Untuk menjaga ketahanan pangan, dibutuhkan investor guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pangan bagi kebutuhan domestik dan internasional.
Dia pun menekankan pentingnya keterbukaan akses pasar bagi para investor. ”Akses kepada pasar menjadi stimulus bagi para investor,” kata Kivejinja.
Ketahanan pangan dan energi, jelasnya, merupakan aspek penting dalam mengentaskan kemiskinan. Sumber energi dari air (hydro power) hanya sekitar lima persen yang diberdayagunakan di Uganda. Padahal, sungai Kongo yang menghidupi 30 persen wilayah Afrika merupakan lahan yang sangat potensial untuk energi.
Isu ketahanan pangan mencuat karena sektor tersebut di sejumlah negara masih mendapatkan prioritas rendah. Ekmeleddin menjelaskan, setidaknya 13 dari 34 negara anggota OKI terdampak krisis dan membutuhkan bantuan eksternal pangan.
”Walau negara-negara OKI memiliki lahan luas, tapi sektor pertanian mendapat prioritas rendah. Untuk meningkatkan produktivitas pertanian perlu solusi imajinatif dan kreatif, serta kerja sama kemitraan antarnegara OKI,” kata Ekmeleddin.
Deputi Perdana Menteri Qatar, Abdullah bin Hamad Al-Attiyah, mengatakan WIEF menjadi ajang sosialisasi dan mempromosikan khususnya isu ketahanan pangan. ”Sejumlah negara ada yang memiliki iklim cocok untuk produk pangan. Sementara negara lainnya punya finansial cukup. Dua kelompok ini harus bekerja sama untuk mendukung ketahanan pangan,” kata Abdullah.
Untuk itu perlu adanya investasi dari negara-negara yang secara finansial cukup, ke negara yang secara geografis cocok untuk produksi pangan, salah satunya adalah investasi teknologi.
Dalam konteks ini, Deputi Ruler Ras al Khaimah, Sheikh Saud bin Saqr Al Qasimi, menekankan agar antara negara Islam yang kaya dan kurang untuk bisa melihat daya saing masing-masing negara dan peluang di tengah krisis. Negara-negara yang secara finansial mencukupi, setidaknya dapat melakukan investasi teknologi di sejumlah negara yang memiliki iklim sesuai untuk pertanian.
Hal yang mirip disuarakan Wapres RI, Jusuf Kalla. Menurutnya, negara-negara Islam yang kaya sumber daya alam, energi, pasar, dan sistem keuangan, berpotensi besar jika didukung teknologi yang mumpuni. Karena itulah WIEF pun mempromosikan insiatif bersama dan penggunaan teknologi terkini di industri pertanian agar bisa meningkatkan produksi pangan efisien.
Kerja sama antarnegara untuk mendukung sektor pertanian harus terus didorong karena telah menjadi isu global. Ini bisa terealisasi jika antarnegara terus mengembangkan kerja sama di sektor itu.
Dana untuk Dunia Islam
Kerja sama, usul Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dapat direalisasikan dengan membentuk Islamic World Supporting Expenditure Fund atau dana untuk membantu pembangunan negara-negara Islam. Salah satunya adalah untuk penguatan ketahanan pangan dan energi, tertutama bagi petani kecil dan pelaku ekonomi kelas menengah ke bawah.
Wacana perlunya kerja sama antarnegara Islam yang berkembang dan kaya, secara implisit dicetuskan pula sejumlah pihak dalam forum ini. Presiden IDB, Ahmed Mohamed Ali, pun menekankan pentingnya investasi ke negara-negara yang membutuhkan ketimbang memberikan pinjaman. ”Melalui investasi, tak hanya sekadar membangun ketahanan pembangunan jangka panjang, tapi juga kemandirian negara-negara miskin,” kata Ahmed.
Gagasan tersebut pun mendapat perhatian dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Sekjen MES, Muhammad Syakir Sula, menilai, Dana untuk Dunia Islam itu dapat menjadi salah satu jembatan komunikasi antarnegara-negara Islam. Sasaran dana yang lebih menyentuh perekonomian masyarakat bawah pun diharapkan menjadi fokus utama.
Kendati, Global CEO HSBC Amanah, Mukhtar Hussain, mempertanyakan struktur institusi tersebut. ”Apakah berbentuk central bank of OIC atau pusat pengembangan negara-negara Islam. Definisi secara institusional harus dilihat lebih lanjut. Kita perlu memikirkan struktur institusi yang bisa kita kembangkan,” kata Mukhtar.
Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzi, memiliki sudut pandang berbeda. Surplus yang dialami negara-negara Islam kaya saat ini, katanya, hendaknya dilakukan secara hati-hati dan bijak agar negara-negara Islam berkelanjutan. ”Namun fokus terpenting adalah dengan membangun pendidikan, baik itu bidang teknologi atau ilmu lainnya,” kata Yuslam.
Pasalnya, negara-negara maju saat ini tak punya sumber daya alam yang kaya. Namun, karena mempunyai kualitas pendidikan cukup baik, negara-negara tersebut bisa menjadi yang terdepan. Dengan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan, akan membuat negara-negara islam berkelanjutan dan maju.
Terlepas dari akan adanya world Islamic expenditure fund, yang patut menjadi perhatian adalah adanya kerja sama secara kontinu antarnegara guna menangani isu-isu global, seperti krisis pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan.
Sektor usaha kecil menengah (UKM) menjadi garda terdepan bagi pengentasan kemiskinan. Sektor ini pun terbukti mampu bertahan dari krisis dan menjadi andalan sejumlah negara saat krisis.
Meski demikian, Ekmeleddin mengidentifikasi masalah yang masih dihadapi UKM, yaitu keterbatasan akses modal, teknologi rendah, minimnya ketersediaan informasi, jasa pengembangan usaha dan kesulitan administratif. Karenanya, kata Ekmeleddin, untuk menumbuhkan UKM, harus didorong dengan komunikasi yang mempromosikan UKM.
Sebab, UKM membantu negara meningkatkan daya saing dalam perekonomian global. ”Hal itu juga akan membawa kolaborasi bagi anggota-anggota OKI untuk mengkaji tantangan baru dan mencari cara meningkatkan kualitas hidup,” kata Ekmeleddin.
Mendukung sektor UKM, WIEF merekomendasikan agar terus mengembangkannya sebagai mesin pertumbuhan di negara-negara OKI, baik peran swasta maupun melalui forum-forum khusus WIEF. Pusat pengembangan perdagangan dalam upaya mengurangi hambatan perdagangan antarnegara-negara OKI juga perlu dibentuk.
OKI pun telah berkomitmen mendukung sektor ini. Islamic Chamber of Commerce and Industry pun dibentuk untuk menciptakan lingkungan usaha yang ramah bagi pengembangan UKM.
Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Agustianto, menyatakan, Dana untuk Dunia Islam diharapkan dapat masuk langsung ke sektor riil. Sebab, masih banyak sektor yang membutuhkan dana investasi Timur Tengah. ”Seharusnya Dana itu dapat meningkatkan kesejahteraan negara berkembang dalam proyek pengentasan kemiskinan,” kata Agustianto.
Forum yang dihadiri oleh 1.557 delegasi dari 38 negara ini pun hendaknya tak hanya menjadi angin lalu dan sebatas angan-angan untuk menciptakan dunia lebih baik, tapi perlu pengembangan dan evaluasi terus menerus untuk memberikan solusi permasalahan yang dihadapi seluruh negara. Deklarasi WIEF yang telah dihasilkan pun hendaknya tak berhenti dibahas dalam satu forum, tapi juga berkembang ke forum-forum lainnya.
Termasuk pula, WIEF tak hanya mengumpulkan pebisnis untuk kepentingan pribadi bisnis semata. Melainkan, berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat dunia.
Kontribusi WIEF untuk Dunia
Deklarasi Jakarta sebagai hasil diskusi intensif dua hari di forum WIEF dikumandangkan sebagai rekomendasi situasi ekonomi dan permasalahan yang dihadapi, terutama negara-negara Islam. Sejauh mana Deklarasi Jakarta dapat berkontribusi bagi perekonomian dunia?
Meski tak menjadi fokus utama di WIEF, ekonomi Islam turut menjadi bahan diskursus. Di tengah krisis ekonomi global, ekonomi Islam dilirik banyak negara. Ekonomi Islam yang menekankan prinsip berkeadilan serta berdasarkan transaksi yang jelas, membuat sistem ini mulai diminati.
WIEF yang dihadiri tak hanya para pebisnis Muslim, tapi juga pengusaha negara-negara non-Muslim, menjadi kesempatan emas memperkenalkan sistem ekonomi Islam. Dalam Deklarasi Jakarta, beberapa poin ditelorkan sebagai pengembangan ekonomi Islam.
Mengantisipasi krisis finansial global, poin pertama yang dicatat adalah mendukung Bank Pembangunan Islam (IDB) agar bisa mempromosikan sistem keuangan Islam dan perbankan syariah sebagai alternatif sistem konvensional.
Presiden IDB, Ahmed Mohamed Ali, menyatakan perlunya kembali ke sistem ekonomi yang beretika. Inti struktur itu, terdapat di industri keuangan Islam. ”Industri pun siap berkontribusi mengembangkan prinsip umum keuangan Islam untuk mereformasi pasar keuangan dan memperkuat kerja sama internasional,” kata Ahmed di sela diskusi WIEF.
WIEF memang merekomendasikan untuk mendukung pusat pelatihan sistem syariah berstandar sama. Ini mengingat banyak negara yang menerapkan ekonomi Islam dalam lembaga keuangan lokalnya. Penetapan standar yang sama, menjadi hal mutlak dalam memiliki visi-misi pengembangan ekonomi Islam.
Pusat pelatihan dapat dibentuk, misalnya, untuk memberi pengenalan ekonomi Islam kepada negara yang tertarik menerapkannya. Namun untuk mewujudkan pusat pelatihan itu, tampaknya tak semudah membalikkan telapak tangan.
Meski sistem ekonomi ini pada dasarnya memiliki akar yang sama, tapi sistem ekonomi Islam terus berkembang mengikuti kondisi global. Pertemuan intensif pun perlu dilakukan setidaknya untuk menerapkan landasan standar yang sama.
Dengan adanya langkah bersama yang konsisten dari sejumlah negara untuk mengembangkan ekonomi Islam, maka tak tertutup kemungkinan sistem itu akan terus berkembang pesat. Tak hanya sekadar alternatif.
Dukungan pengembangan ekonomi Islam, disampaikan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi. Untuk mengembangkan intelektual sumber daya manusia (SDM) industri syariah di Malaysia, paparnya, dibentuk pusat studi keuangan syariah di Kuala Lumpur.
Krisis yang membuat dunia internasional melirik keuangan syariah. ”Keuangan syariah merupakan sistem keuangan otentik dan tak berisiko tinggi,” kata Badawi.
Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia, A Riawan Amin, menjelaskan, ekonomi Islam bukan hanya bisnis semata, tapi juga menjadi suatu landasan ekonomi. ”Bagi masyarakat Hong Kong, Singapura, dan London saja syariah dianggap viable. Jadi, tak ada alasan syariah tak dianggap viable di Indonesia yang 80 persen populasinya Muslim,” jelas Riawan.
Sistem ekonomi Islam, lanjut Riawan, dapat diterapkan, baik kepada umat Islam maupun non-Islam yang memang ingin bisnis berkeadilan. Ekonomi Islam sejatinya menerapkan sistem ekonomi berkeadilan bagi para pelaku yang menggelutinya.
Perkembangan ekonomi Islam di Tanah Air, khususnya di perbankan syariah, Riawan mengharapkan ada langkah konsisten dari pemerintah untuk mendukung industri keuangan Islam Indonesia. Salah satunya, dengan menempatkan dana pemerintah di perbankan syariah, serta penempatan transaksi tabungan haji, wakaf, dan zakat melalui transaksi syariah. gie
Deklarasi Jakarta
Mengatasi Krisis Finansial Global
a. mendukung upaya dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk mengakselerasi kerja sama ekonomi regional lewat implementasi diri 10 tahun.
b. Mendukung Bank Pembangunan Islam (IDB) untuk bisa mempromosikan sistem keuangan Islam dan perbankan syariah sebagai alternatif dari sistem konvensional.
c. Meminta pemerintah dan bank-bank Islam memperluas mikrokredit berbasis syariah.
d. Mendukung upaya pengaturan di finansial global untuk memitigasi risiko dan kegagalan.
e. Mendukung pusat pelatihan sistem syariah dengan standar yang sama.
Bidang Ketahanan Pangan
a. Mendukung lebih besar lagi kolaborasi pemerintah dan swasta untuk meningkatkan produktivats pertanian. Baik di negara-negara OKI maupun negara lain di dunia.
b. Mempromosikan insiatif bersama dan penggunaan teknologi terkini di industri pertanian untuk bisa meningkatkan produksi pangan yang efisien.
c. Menyerukan pengurangan hambatan peraturan, termasuk subsidi pangan juga produksi pangan yang berkelanjutan yang menghambat perdagangan.
d. Merekomendasikan keseimbangan antara produksi pangan untuk konsumsi manusia dan penggunaan energi.
Bidang Energi
a. Meningkatkan kembali riset dan pengembangan bahan bakar nonkarbon dan sumber alternatif energi lainnya.
b. Mendukung konservasi energi dan program pengurangan emisi karbon.
Bidang UKM
a. Mengembangkan UKM sebagai mesin pertumbuhan ekonomi di negara-negara OKI untuk mendukung sektor swasta dan forum-forum khusus WIEF.
b. Mendukung pusat Islam untuk pusat pengembangan perdagangan dalam upaya mengurangi hambatan perdagangan antarnegara-negara OKI.
c. Mendukung liberalisasi dari prosedur visa untuk memfasilitasi perjalanan oleh para pengusaha di seluruh negara-negara OKI
Selain itu WIEF juga menegaskan komitmen kelanjutan WIEF atas keberhasilan dari proyek-proyek WIEF sebagai berikut:
* Jaringan Wanita WIEF
a. Program pengusaha wanita di bawah WIEF-UITM International center.
b. Memajukan keberlangsungan program pelatihan perawat dan pengenalan program pelatihan bagi para bidan menjadi sebuah platform untuk wiraswasta di daerah-daerah pedesaan.
* Jaringan Pemimpin Muda WIEF
Melanjutkan tujuan WIEF Young Leaders Network (WYN) dengan memperluas beasiswa WYN, melakukan mentor pembelajaran program magang supaya berkembang menjadi pemimpin dan tumbuh berkembang menjadi posisi seorang pengusaha.
* WIEF Education Trust
Perwalian dana pendidikan WIEF-UITM International center dan pelatihan, serta program pendidikan dan pengembangan riset, termasuk promosi pendidikan seumur hidup.
April 3rd, 2009 at 10:33 pm
assalamu’alaikum
Ba’da tahmid wa sholawat
Pak Agustionto yang di Muliakan Allah, boleh saya minta komentar Bapak terkait dengan komentar Presiden IDB, Ahmed Mohamed Ali, yang menyatakan “perlunya kembali ke sistem ekonomi yang beretika”. Inti struktur itu, terdapat di industri keuangan Islam. ”Industri pun siap berkontribusi mengembangkan prinsip umum keuangan Islam untuk mereformasi pasar keuangan dan memperkuat kerja sama internasional,” kata Ahmed di sela diskusi WIEF.
dari komentar Presiden IDb tsb, kalau dikaji dari refleksi historis kajian dan pengembangan konsep dan praktek Ekonomi syariah pada masa-masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan umar bin Khatab, begitu juga dari konsep pemikiran Abnu Khaldun dan Ummar Chapra, indikasi pencapaian kontribusi Industri syariah didunia internasional lebih khusus bagi Indonesia menurut Bapak kontribusi yang nyata terlihat dan dirasakan dengan kegiatan WIEF ini sejauh mana cakupannya Pak?, belajar dari historis WIEF sebelumnya.
atas jawaban dan pendapat Bapak sebelumnya saya ucapkan Jazzakumullah khatsir.
Wassalamu’alaikum